Kamis, 10 Januari 2013

Cabang iman Yg Ke- 14 s/d 16(Mencintai Nabi Muhammad,Mengagungkan derajat Nabi Muhammad dan Bakhil terhadap agama Islam)

 -----------------------

Cabang iman Yg Ke- 14 s/d 16(Mencintai Nabi Muhammad,Mengagungkan derajat Nabi Muhammad dan Bakhil terhadap agama Islam)

 ===============
Cabang iman Yg Ke-14 s/d 16 sebagimana disebutkan dalam bait syair:
وَاحْبُبْ نَبِيَّكَ ثُمَّ عَظِّمْ قَدْرَهُ * وَابْخِلْ بِدِيْنِكَ مَا يُرَى بِكَ مَأْثَمُ
Cintailah nabimu, kemudian agungkan derajatnya; dan kikirlah dengan agamamu selama dilihat perbuatan dosa bagimu.

Mencintai Nabi Muhammad saw

Nabi Muhammad saw bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُوْنَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ
Tiadalah salah seorang dari kalian beriman, sehingga aku lebih dicintai olehnya dari pada dirinya, hartanya, anaknya, orang tuanya dan manusia semuanya.
Manusia dalam hadits ini adalah selain orang-orang yang telah disebutkan, seperti kerabat, kenalan, tetangga, teman, dan lainnya. Mencintai Rasulullah saw adalah perwujudan dari mencintai Allah Ta'ala, demikian pula mencintai ulama dan orang-orang yang bertakwa, karena Allah Ta'ala mencintai mereka dan mereka juga mencintai Allah. Semua itu kembali kepada kecintaan yang asli dan tidak boleh melampauinya. Karena pada hakekatnya sama sekali tidak ada yang dicintai bagi orang-orang yang tajam pandangan mata hatinya kecuali Allah Ta'ala, dan sama sekali tidak ada yang berhak untuk dicintai kecuali Dia.

Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw

Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw berarti mengetahui ketinggian derajatnya, menjaga tatakrama dan sopan santun pada waktu menyebut nama beliau, dan mendengar nama serta hadits beliau, memperbanyak membaca salawat atas beliau, dan memusatkan perhatian dalam mengikuti sunnah beliau. Dalam surat al-Hujurat ayat 2 Allah swt berfirman:
يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَرْفَعُوْا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلاَ تَجْهَرُوْا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لاَ تَشْعُرُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian dari kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus pahala amalmu sedangkan kamu tidak menyadari.

Bakhil terhadap agama Islam

Bakhil terhadap agama berarti lebih senang dibunuh dan dimasukkan ke dalam api dari pada menjadi orang kafir, dan menyadari bahwa agama Islam adalah jauh lebih mulia dari pada semua harta dan anak-anaknya.
Umar bin Abdul Aziz pada waktu menjabat sebagai kepala negara telah mengirimkan sepasukan tentara untuk melawan serangan tentara Romawi. Dalam peperangan tersebut 20 orang tentara muslim ditawan oleh pasukan Romawi. Kaisar Romawi memerintahkan salah seorang dari tentara muslim yang ditawan untuk meninggalkan agama Islam dan memeluk agama kekaisaran Romawi serta menyembah tuhannya:
Kaisar: Hai orang muslim, jika kamu mau memeluk agamaku dan menyembah tuhan yang aku sembah, maka kujadikan kamu sebagai kepala pemerintahan di daerah yang besar. Aku akan memberimu: bendera, wanita penghibur, piala, dan terompet. Jika kamu tidak mau masuk agamaku, maka aku akan membunuh dan memenggal lehermu dengan pedang.
Tawanan: Aku tak akan menjual agama dengan harta benda dunia.
Kaisar lalu memerintahkan untuk membunuhnya. Tawanan tersebut dibawa ke alun-alun dan dipenggal lehernya dengan pedang. Setelah lehernya putus, kepalanya berputar mengelilingi alun-alun sambil membaca ayat al-Quran, al-Fajr 30:
يَآ ئَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِى اِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِى فِى عِبَادِى وَادْخُلِى جَنَّتِى
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya. Masuklah dalam kelompok hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Kaisar makin marah dan memerintahkan untuk mengambil tawanan yang kedua.
Kaisar: Masuklah ke agamaku, nanti kau kujadikan kepala pemerintahan di kota Anu. Jika engkau menolak, maka akan kupotong lehermu seperti kupotong leher temanmu.
Tawanan: Aku tidak akan menjual agama dengan harta benda dunia. Jika kamu mempunyai kekuasaan untuk memotong leherku, maka kamu tidak memiliki kekuasaan untuk memotong imanku.
Kaisarpun memerintahkan untuk memotong lehernya. Setelah putus, kepalanya berputar mengelilingi alun-alun tiga kali seperti kepala temannya sambil membaca ayat al-Quran, al-Haqqah 21-23:
فَهُوَ فِى عِيْشَةٍ رَاضِيَةٍ فِى جَنَّةٍ عَالِيَةٍ قُطُوْفُهَا دَانِيَةٌ
Maka dia telah berada dalam kehidupan yang diridlai, yaitu dalam surga yang tinggi, yang bebuahannya terjangkau.
Kaisar makin menjadi marah, dan memerintahkan untuk mengambil tawanan yang ketiga, seorang muslim yang celaka.
Kaisar: Apa yang akan kau katakan? Apakah engkau mau masuk agamaku dan akan kujadikan engkau seorang kepala pemerintahan?
Tawanan: Aku mau masuk agamamu dan memilih dunia dari pada akhirat.
Kaisar: Menteri, buatkan surat keputusan untuk tawanan ini. Berikan kepadanya wanita, piala, dan bendera.
Menteri: Baginda Kaisar, katakanlah kepadanya: "Jika engkau orang yang jujur dalam ucapanmu, bunuhlah salah seorang dari temanmu, agar kami dapat mempercayai omonganmu."
Tawanan terkutuk itu mengambil salah seorang temannya dan membunuhnya di hadapan Kaisar Romawi.
Kaisar: Menteri, buatkan untuk dia SK Pengangkatan.
Menteri: Baginda Kaisar, hal ini tidak masuk akal bila Baginda membenarkan omongannya. Tawanan ini sudah tidak mau lagi memelihara hak saudaranya yang dia lahir dan dibesarkan bersamanya. Bagaimanakah dia akan dapat memelihara hak kita?
Kemudian Kaisar Romawi memerintahakan untuk memenggal leher tawanan yang celaka tersebut. Setelah lehernya putus, kepalanya berputar mengelilingi alun-alun sambil membaca ayat al-Quran, az-Zumar 19:
اَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ اَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِى النَّارِ ؟
Apajah kamu hendak mengubah nasib orang-orang yang telah pasti ketentuan adzab atasnya? Apakah kamu akan menyelamatkan orang-orang yang berada dalam api neraka?
Kepala tawanan yang terkutuk tersebut berhenti di ujung alun-alun dan tidak berkumpul dengan kedua kepala temannya. Dia kembali menuju siksa Allah. Semoga Allah melindungi kita sekalian dari kesesatan.

Cabang iman Yang Ke-10 s/d 13

======================

Cabang iman Yang Ke-10 s/d 13

 ==========================
Cabang iman 10-13(Mencintai Alloh,Takut kepada siksa Alloh,Mengharap rahmat Allah Ta'ala, dan Tawakaldisebutkan dalam bait syair:
وَاحْبُبْ اِلَهَكَ خَفْ اَلِيْمَ عِقَابِهِ * وَلِرَحْمَةِ ارْجُ تَوَكَّلَنْ يَا مُسْلِمُ
Cintailah Tuhanmu, takutlah akan kepedihan siksa-Nya, berharaplah engkau akan rahmat Allah, dan bertawakallah benar-benar wahai orang muslim.

Mencintai Alloh

Secara logical framework, kecintaan kepada Alloh digambarkan oleh Imam Sahal:
"Tanda mencintai Alloh adalah mencintai al-Quran. Tanda mencintai Alloh dan al-Quran adalah mencintai Nabi Muhammad saw. Tanda mencintai Nabi Muhammad saw adalah mencintai sunnah (ucapan, tingkah laku, dan sikap) beliau. Tanda mencintai sunnah adalah mencintai akhirat. Tanda mencintai akhirat adalah membenci dunia (pujian orang, penampilan, kemewahan dan lain-nya). Tanda membenci dunia adalah tidak mempergunakan harta benda dunia kecuali sebagai bekal menuju akhirat."
Syeikh Hatim bin Alwan berkata: "Barang siapa mengaku tiga hal tanpa tiga hal lainnya, maka ia adalah pembohong:
  1. orang yang mengaku mencintai Allah tanpa menjauhi larangan-Nya,
  2. orang yang mengaku mencintai Nabi Muhammad saw tanpa mencintai kefakiran, dan
  3. orang yang mengaku mencintai surga tanpa mau menyedekahkan hartanya."
Sebagian dari ahli makrifat berkata: "Jika iman seseorang berada di luar hati, maka ia akan mencintai Allah dengan kecintaan yang sedang. Jika iman seseorang telah masuk ke tengah hati, maka dia akan mencintai Allah dengan kecintaan yang sepenuhnya dan akan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan."
Pada pokoknya mengaku cinta adalah menanggung resiko. Oleh karena itu Syeikh Fudlail bin Iyadl berkata: "Jika kamu ditanya apakah engkau mencintai Allah, maka diamlah! Karena sesungguhnya jika engkau mengatakan "tidak", maka engkau "kafir" dan jika mengatakan "ya", maka sifatmu bukanlah sifat dari orang-orang yang mencintai-Nya."

Takut kepada siksa Alloh

Menurut Imam al-Ghozali dalam kitab Ihya' Ulumiddin, derajat takut yang paling minim adalah menahan diri dari hal-hal yang dilarang, yang dinamakan wara'. Jika kekuatan takut bertambah, maka akan menahan diri dari hal-hal yang tidak diyakini keharamannya; dan hal ini dinamakan takwa. Jika pada rasa takut tergabung usaha untuk memurnikan waktunya hanya semata untuk melayani Allah, sehingga tidak membangun rumah yang tidak akan ditempati selamanya, tidak mengumpulkan harta yang tidak akan dimakan, dan tidak menoleh kepada kesenangan dunia karena mengetahui bahwa dunia itu akan berpisah dengannya, sehingga tidak mempergunakan satu nafaspun selain untuk Allah, maka hal ini dinamakan shidqun atau jujur dan orangnya dinamakan shiddiq.
Jadi takwa termasuk dalam shidqun, wara' masuk dalam takwa, dan iffah (meninggalkan yang haram) masuk dalam wara'.

Mengharap rahmat Alloh Ta'ala

Dalam surat az-Zumar ayat 53 Allah swt berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْذَفُوْا عَلَى اَنْفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوْا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ اِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا اِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu sekalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Rasulullah saw bersabda:
اَلْفَاجِرُ الرَّاجِى لِرَحْمَةِ اللهِ تَعَالَى اَقْرَبُ اِلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابِدِ الْقَانِطِ
Orang durhaka yang mengharap rahmat Allah Ta'ala adalah lebih dekat kepada Allah Ta'ala dari pada ahli ibadah yang putus harapan.
Diriwayatkan dari Umar, dari Zaid bin Aslam bahwa ada seorang laki-laki dari umat terdahulu yang giat beribadah dan memperberat dirinya dalam ibadah, sedangkan ia adalah orang yang tidak mengharapkan rahmat Allah. Ketika laki-laki tersebut mati dan bertanya kepada Allah: "Ya Tuhanku, apakah bagianku di sisi-Mu?" Allah berfirman: "Bagianmu adalah neraka!" Laki-laki tersebut berkata: "Wahai Tuhanku, di manakah ibadah dan kegiatanku?" Allah berfirman: "Engkau adalah orang yang tidak mengharap rahmat-Ku di dunia, maka pada hari ini Aku memutuskan engkau dari rahmat-Ku!"
Dalam kitab Ihya' Ulumiddin dijelaskan bahwa hakekat "harapan" adalah kesenangan hati karena menanti sesuatu yang dicintai. Akan tetapi sesuatu yang dicintai itu harus dapat terjadi dan harus berdasarkan sebab. Jika sebabnya tidak ada, disebut "tipuan" dan "ketololan". Jika sebabnya tidak diketahui ada atau tidak ada, disebut "angan-angan". Jika dalam hati kita tergerak keadaan sebab tersebut dalam waktu yang telah lampau, disebut "mengingat". Jika dalam hati kita tergerak keadaan sebab tersebut dalam waktu sekarang, disebut "menemukan" dan "merasakan". Jika dalam hati kita tergerak keadaan dari sesuatu pada waktu yang akan datang, dan keadaan sesuatu tersebut sangat menguasai hati kita, maka disebut "menanti" dan "mengharap". Jika yang dinanti adalah sesuatu yang dibenci yang menghasilkan rasa sakit dalam hati, dinamakan "takut" atau "ketakutan". Jika yang dinanti adalah sesuatu yang dicintai yang menghasilkan kelezatan dan kesenangan, maka kesenangan tersebut disebut "harapan" atau raja'.

Tawakkal

Dalam surat al-Ma'idah ayat 23 Allah swt berfirman yang antara lain sebagai berikut:
... وَعَلَى اللهِ فَتَوَكَّلُوْا اِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ
... dan hanya kepada Allah hendaknya kamu sekalian bertawakal, jika kamu sekalian benar-benar beriman.
tawakal terdiri dari tiga unsur, yaitu: makrifat, keadaan hati, dan amal.
Makrifat, yaitu keyakinan dan kesadaran hati bahwa selain dari Allah Ta'ala tidak ada yang dapat mendatangkan sesuatu manfaat atau kenikmatan kepada kita. Sedangkan keyakinan atau iman di sini terdiri dari empat tingkat:
  • Iman dari orang munafik
    Yaitu orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat tetapi hatinya sama sekali tidak meyakini kebenaran makna yang terkandung dalam dua kalimah syahadat.
  • Ilmul yaqin
    Yaitu keyakinan dari orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat dan hatinya meyakini kebenaran makna yang terkandung dalam dua kalimah syahadat berdasarkan ilmu yang dipelajari.
  • Aynul yaqin
    Sebagai kelanjutan dari tingkat kedua, yaitu keyakinan dari orang yang telah jernih pandangan mata hatinya sehingga dapat memandang kekuasaan Allah melalui segala sesuatu yang dipandang oleh mata kepalanya.
  • Haqqul yaqin
    Sebagai kelanjutan dari tingkat ketiga, yaitu keyakinan dari orang yang hatinya benar-benar telah dapat menyadari dan menghayati hakekat dari wujud dan kekuasaan Allah swt.
Hal atau keadaan hati dari orang yang bertawakal terdiri dari tiga urutan tingkat:
  • keadaan orang yang bertawakal mengenai hak Allah dan mengenai keyakinannya terhadap tanggungan dan pertolongan Allah swt seperti keadaan mengenai keyakinan hatinya kepada kemampuan seorang wakil yang menangani urusannya.
  • keadaan orang yang bertawakal terhadap Allah swt seperti keadaan anak kecil terhadap ibunya Yaitu kondisi anak kecil yang tidak mengenal orang lain, selain ibunya. Tidak berlindung dari kesulitan kecuali kepada ibunya. Tidak bersandar dan tidak menggantungkan segala keperluannya kecuali kepada ibunya. Jika melihat ibunya niscaya dirangkulnya. Jika ada sesuatu yang menimpa dirinya sewaktu ibunya tidak ada, maka ucapan yang pertama kali keluar dari mulutnya adalah,"Ibu!". Yang pertama kali tergerak dalam hatinya adalah ibunya. Sesungguhnya ia benar-benar telah yakin terhadap pemeliharaan dan kasih sayang ibunya dengan keyakinan yang penuh.
  • keadaan orang yang bertawakal terhadap Allah dalam setiap gerak dan diamnya seperti mayat di tangan orang yang memandikannya; ia tidak berpisah dengan Allah karena melihat dirinya bagaikan mayat yang digerakkan oleh kekuasaan Allah yang azali, seperti mayat yang digerakkan oleh tangan orang yang memandikannya. Inilah tingkat tawakal yang paling tinggi dari orang yang telah kuat iman dan keyakinannya bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Dzat Yang Maha Penggerak.
Amal tawakal terdiri dari tiga macam, yaitu:
  1. Jalbun nafi'
    Yaitu melakukan pekerjaan yang dapat menjadi sebab dari kedatangan manfaat. Terdiri dari tiga tingkat:
    1. meyakinkan
      Seperti menyuap nasi yang sudah tersedia bagi orang yang ingin menghilangkan rasa lapar dari perutnya.
    2. Diduga keras
      Seperti menanak nasi bagi orang yang ingin menghilangkan rasa lapar dari perutnya, dan berasnya sudah tersedia.
    3. Diperkirakan
      Seperti mencari uang untuk membeli beras bagi orang yang ingin menghilangkan rasa lapar dari perutnya.
  2. Qath'ul adza
    Yaitu melenyapkan atau menghilangkan hal-hal yang dapat merusak kemanfaatan yang ada. Terdiri dari tiga tingkat:
    1. Meyakinkan
      Seperti meminum obat dari dokter bagi orang yang ingin menghilangkan rasa sakit dari badannya.
    2. Diduga keras
      Seperti pergi ke apotik untuk membeli obat resep dari dokter bagi orang yang ingin menghilangkan rasa sakit dari badannya.
    3. Diperkirakan
      Seperti mencari uang untuk membeli obat resep dari dokter bagi orang yang ingin menghilangkan rasa sakit dari badannya.
  3. Daf'ul madlarrat
    Yaitu menolak kedatangan hal-hal yang dapat merusak kemanfaatan yang ada. Terdiri dari tiga tingkat:
    1. Meyakinkan
      Seperti menghalau atau mengusir kucing yang akan makan ikan yang ada di meja makan.
    2. Diduga keras
      Seperti menyimpan ikan dalam lemari makan dan menguncinya agar tidak dimakan kucing.
    3. Diperkirakan
      Seperti pergi untuk membeli lemari makan guna menyimpan ikan agar tidak dimakan kucing.

Cabang iman Yg Ke-6 s/d 9

 -----------------------------------

Cabang iman Yg Ke-6 s/d 9

 ==========================
Cabang iman Yg Ke-6 s/d 9:
وَالْبَعْثِ وَالْقَدَرِ الْجَلِيْلِ وَجِمْعِنَا * فِي مَحْشَرٍ فِيهِ الْخَلاَئِقُ تَحَشَمُ
Dan (beriman) kepada: kebangkitan, qadar dari Yang Maha Agung, dan kumpul kita di Padang Mahsyar yang di situ para makhluk merasa malu (sehingga pucat mukanya).

Beriman kepada kebangkitan orang mati

Kita wajib beriman bahwa sesungguhnya Allah swt akan membangkitkan atau menghidupkan semua makhluk yang sudah mati, baik yang dikubur, mati tenggelam, atau sebab lainnya. Menurut pendapat yang disepakati oleh seluruh ulama, yang dibangkitkan adalah wujud dari badan dan bukan yang semisal dari badan ini. Dalam surat at-Taghabun ayat 7 Allah swt berfirman:
زَعَمَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا اَنْ لَنْ يُبْعَثُوْا قُلْ بَلَى وَرَبِّى لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ وَذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرٌ
Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian, demi Tuhanku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". Yang demikian adalah mudah bagi Allah.

Beriman kepada qadar

Kita harus yakin bahwa Allah swt mewujudkan segala sesuatu sesuai dengan pengetahuan Allah yang telah mendahuluinya. Semua perbuatan makhluk adalah sesuai dengan ketentuan Allah Ta'ala. Oleh karena itu sepatutnyalah bagi manusia untuk rela terhadap keputusan-Nya.
Syekh Afifuddin az-Zahid menceritakan bahwa sewaktu berada di Mesir beliau mendengar sesuatu yang terjadi di Baghdad tentang pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslimin. Kota Baghdad hancur, selama tiga setengah tahun tidak mempunyai pemerintahan. Juga tentang perbuatan orang-orang kafir mengalungkan mushaf al-Quran pada leher-leher anjing, membuang kitab karangan para ulama ke sungai sehingga menjadi seperti jembatan yang dapat dilalui oleh kuda mereka. Syekh Afifuddin az-Zahid mengingkari hal tersebut dan bertanya kepada Allah swt, "Wahai Tuhanku, bagaimana hal ini dapat terjadi, sedangkan di antara kaum muslimin yang dibunuh itu terdapat anak-anak dan orang-orang yang tidak berdosa?"
Pada waktu tidur Syekh Afifuddin az-Zahid bermimpi melihat seorang laki-laki yang membawa sebuah tulisan, lalu beliau ambil. Tulisan tersebut berbunyi:
دَعِ الإِعْتِرَاضَ فَمَا الأَمْرُ لَـكَ * وَلاَ الْحُكْمُ فِى حَرَكَاتِ الْفَلَكِ
وَلاَ تَسْـأَلِ اللهَ عَنْ فِعْلِــهِ * فَمَنْ خَـاضَ لُجَّةَ بَحْـرٍ هَلَكَ
Tinggalkanlah menentang putusan Allah, karena urusan itu bukanlah milikmu; dan tiadalah hukum itu tergantung pada gerakan-gerakan bintang.
Janganlah engkau bertanya kepada Allah mengenai pekerjaan-Nya. Barang siapa yang mengarungi gelombang lautan niscaya dia akan binasa.

Beriman bahwa semua makhluk sesudah dibangkitkan dari kubur akan digiring ke Padang Mahsyar, yaitu tempat pemberhentian mereka pada hari kiamat

Padang Mahsyar adalah tanah putih, berupa lembah datar, sama sekali tiada bengkokannya, tak ada bukit tempat orang dapat bersembunyi di belakangnya, tak ada jurang tempat merendahkan pandangan, kecuali sebuah padang luas yang sama sekali tak ada perbedaannya. Manusia akan dihalau ke Padang Mahsyar secara berombongan, sesuai tingkatannya. Di antara mereka ada yang:
  • naik kendaraan, yaitu orang yang bertakwa,
  • berjalan dengan kedua kakinya, yaitu orang yang sedikit amalnya,
  • berjalan dengan mempergunakan mukanya, yaitu orang-orang kafir.
Dari tempat pemberhentian ini, manusia diberangkatkan ke surga atau neraka. Mereka akan melalui titian atau jembatan. Dalam meniti jembatan, menurut Syeikh Muhammad al-Hamdani umat Nabi Muhammad saw terbagi menjadi tujuh macam:
  1. Orang siddiq, yang akan meniti secepat kilat.
  2. Orang alim, yang akan meniti secepat angin yang kencang.
  3. Para wali abdal, yang akan meniti secepat burung terbang dalam satu saat yang sebentar.
  4. Orang yang mati syahid, yang akan meniti secepat kuda balap dalam waktu setengah hari.
  5. Orang yang mati pada saat menunaikan ibadah haji, yang akan meniti dalam waktu satu hari penuh.
  6. Orang yang taat, yang akan meniti dalam waktu satu bulan.
  7. Orang yang maksiat, yang meletakkan kaki mereka di atas titian, sedangkan dosa mereka diletakkan di atas punggung.
Ketika mereka lewat, neraka Jahanam mendatangi untuk membakar mereka. Kemudian neraka Jahanam melihat cahaya iman di hati mereka, lalu berkata:
"Lewatlah wahai orang mukmin, karena sesungguhnya cahaya imanmu memadamkan kobaran apiku!"
Di Padang Mahsyar, para makhluk pucat mukanya dan malu karena amal jelek mereka akan dibeberkan di hadapan Allah swt. Setiap orang akan sibuk dengan urusannya sendiri dengan memasukkan jari-jari tangan kanannya ke sela-sela jari tangan kirinya. Keadaan mereka tersebar seperti belalang yang tersebar di bumi. Masing-masing orang dapat saling melihat keluarganya dan dapat saling mengenal, akan tetapi tidak berbicara. Mereka berjalan di Padang Mahsyar tidak beralas kaki dan dalam keadaan telanjang bulat, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:
يُبْعَثُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غَرْلاً قَدْ اَلْجَمَهُمُ الْعِرْقُ وَبَلَغَ شُحُوْمَ الآذَانِ
Manusia akan dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat, lagi tidak berkhitan. Keringat telah mengendalikan mereka dan keringat tersebut sampai di daun telinga.

Cabang iman 9 disebutkan dalam bait syair:
وَبِاَنَّ مَرْجِعَ مُسْـلِمٍ لِجِنَـانِهِ * وَبِاَنَّ مَرْجِـــعَ كَافِرٍ لِجَهَنَّمُ
Dan beriman bahwa sesungguhnya tempat kembali orang muslim adalah surganya, dan bahwa sesungguhnya tempat kembali orang kafir adalah neraka Jahanam".

Beriman bahwa sesungguhnya surga adalah tempat tinggal yang kekal bagi orang muslim; sedangkan neraka Jahanam adalah tempat tinggal yang kekal bagi orang kafir

Orang muslim adalah orang yang mati dalam keadaan beragama Islam, meskipun sebelumnya kafir. Orang-orang yang berbuat maksiat dapat tergolong orang muslim, sehingga tempat kembali dan tempat mereka yang kekal adalah surga. Jika mereka dimasukkan ke dalam neraka, mereka tidak kekal di dalamnya. Bahkan siksaan mereka tidak langgeng selama di dalam neraka; karena setelah masuk ke dalam neraka mereka akan mati sekejap yang hanya diketahui ukurannya oleh Allah swt dan mereka tidak hidup sehingga keluar dari neraka. Mati di sini maksudnya bahwa mereka itu tidak dapat merasakan siksa, dan bukan mati dengan keluar nyawa dari tubuhnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan orang kafir di sini ialah orang yang mati dalam keadaan kafir, meskipun dia hidup sepanjang umurnya dalam keadaan beriman. Termasuk juga orang yang sungguh-sungguh mempergunakan akal fikirannya, akan tetapi tidak dapat sampai kepada kebenaran sejati; sementara ia meninggalkan taklid yang diwajibkan baginya.
Anak-anak orang musyrik tidak termasuk kafir, bahkan mereka di dalam surga, menurut pendapat yang benar. Dalam hal kafir tidak ada perbedaan antara manusia dan jin.

Cabang iman Yg ke-1 s/d 5

---------------------------

Cabang iman Yg ke-1 s/d 5

 ===================
Cabang iman 1-5 disebutkan dalam bait syair:
آمِنْ بِرَبِّكَ وَالْمَلآئِكِ وَالْكُتُبِ * وَالأَنْبِيَا وَبِيَوْمِ يَفْنَى لْعَـالَمُ
Berimanlah engkau kepada Tuhanmu, para malaikat, kitab-kitab, para nabi dan hari kerusakan alam.


1.Beriman kepada Allah

Kita wajib beriman bahwa Allah adalah:
  • Maha Esa yang sama sekali tidak ada sekutu bagi-Nya.
  • Maha Tunggal yang sama sekali tidak ada yang serupa dengan-Nya, tempat meminta pertolongan yang sama sekali tidak ada yang menandingi-Nya.
  • Maha Sedia tanpa permulaan.
  • Maha Berdiri dengan pribadi-Nya sendiri.
  • Maha Kekal.
  • Maha Abadi.
  • Maha Dahulu yang tidak ada permulaan bagi-Nya.
  • Maha Akhir yang sama sekali tidak ada kesudahan bagi-Nya.
  • Maha Tegak yang tidak dilenyapkan oleh masa dan tidak diubah oleh sangkaan.
  • Maha Permulaan, Maha Akhir, Maha nampak pekerjaannya dan Maha Tersembunyi yang tidak tampak Dzat-Nya.
  • Maha Suci dari jasmani, tak sesuatupun yang menyerupai-Nya.

2.Beriman kepada para malaikat

Kita wajib membenarkan wujud mereka sebagai:
  • para hamba Allah yang dimuliakan.
  • tidak pernah maksiat atau mendurhakai Allah terhadap segala yang telah diperintahkan oleh Allah kepada mereka dan selalu melaksanakan semua yang diperintahkan.
  • jasmani yang halus dan bernyawa.
  • sesuatu kekuatan yang dijadikan oleh Allah untuk berubah-ubah bentuk yang indah.
  • dibuat dari cahaya.

3.Beriman kepada kitab Allah

Kita wajib membenarkan bahwa sesungguhnya kitab yang diturunkan oleh Allah kepada para nabi-Nya adalah wahyu Allah yang memuat hukum dan kabar-Nya.

4.Beriman kepada para nabi

Kita wajib membenarkan bahwa sesungguhnya para nabi adalah:
  • orang-orang jujur dalam segala hal yang mereka khabarkan dari Allah.
  • di antara mereka ada yang diutus kepada makhluk untuk memberi petunjuk dan untuk menyempurnakan kehidupan mereka di dunia serta tempat kembali mereka di akhirat.
  • diberi mukjizat oleh Allah yang dapat menunjukkan kebenaran mereka.
  • menyampaikan risalah Allah dan menerangkan segala sesuatu kepada orang-orang mukallaf.

5.Beriman kepada kerusakan seluruh alam semesta

Kita wajib beriman bahwa alam semesta, alam dunia maupun benda di angkasa akan hancur binasa pada hari kiamat. Amal yang kita kerjakan akan dibalas dengan cara perhitungan amal, penimbangan amal, titian, surga dan neraka.

Minggu, 06 Januari 2013

Tujuh Puiluh Tujuh (77) Cabang Iman

 ------------------------------------------------------------------------

Imam memiliki 77 Cabang sebagaimna dijelaskan oleh Syeikh Zainuddin bin Ali Al-Malibary RA dalam kitab Syu'abul Iman yg disyarahi Oleh Al-Syeikh Al-Imam Nawawy Al-Bantany RA (أبو عبد الله أو أبو عبد المعطي محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي البنتني التناري المصري ثم المكي الشافعي الصوفي ) DIKAJI DI : ا لمعهد ا لإ سلا مي و مجلس ا لتعليم ا لخير ا ت PASURUAN, JAWA TIMUR INDONESIA. قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان هو شرح على منظومة شعب الإيمان لزين الدين المليبارى (توحيد) وبهامشه هداية الأذكياء وهي منظومة لزين الدين المذكور

 ==================================================
Imam memiliki 77 Cabang sebagaimna dijelaskan oleh Syeikh Zainuddin bin Ali Al-Malibary RA dalam kitab Syu'abul Iman yg disyarahi Oleh Al-Syeikh Al-Imam Nawawy Al-Bantany RA
(أبو عبد الله أو أبو عبد المعطي محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي البنتني التناري المصري ثم المكي الشافعي الصوفي
) SEBUAH KITAB YANG DIKAJI DI :
ا لمعهد ا لإ سلا مي و مجلس ا لتعليم ا لخير ا ت
PASURUAN, JAWA TIMUR INDONESIA.
قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان
هو شرح على منظومة شعب الإيمان لزين الدين المليبارى (توحيد) وبهامشه هداية الأذكياء وهي منظومة لزين الدين المذكور
===================================================
 بسم الله الرحمن الرحيم

Al-Syeikh Muhammad Nawawi bin 'Umar Banten mengawali ulasan syair yang menuturkan cabang-cabang iman dengan tiga syair pembuka kitab Syu'ab al-Iman sebagai berikut:
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى قَدْ صَـيَّرَا * اِيْمَانَ شَخْصٍ ذَا شُعَبْ فَتُتَمَّمُ
هَذِىْ بُيوْتٌ مِنْ كِتَابِ الْكُوْشِنِى * مَنْ قَـالَ بَعْدَ صَـلاَتِنَا َنُسَـلِّمُ
لِمُحَـمَّدٍ وَِلآلِـهِ وَصَــحَـابَتِهْ * مَادَارَ شَمْسٌ فِى السَّمَـاءِ وَاَنْجُمُ
  • Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan iman seseorang mempunyai cabang-cabang, sehingga cabang tersebut harus disempurnakan.
  • Bait-bait syair ini diambil dari kitab Syeikh Zainuddin al-Kusyini, yaitu orang yang berkata setelah kami membaca salawat dan salam,
  • bagi Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau, selama matahari dan bintang-bintang di langit masih beredar.
Akhirnya kami memohon kepada Allah swt semoga risalah kecil ini dapat bermanfaat bagi generasi muda Islam pada khususnya dan umat Islam pada umumnya, sebagaimana Allah telah memberikan manfaat yang besar kepada kitab aslinya.

Iman Memiliki  sebanyak 77 cabang Iman, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh para ahli hadits sebagai berikut:
اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً ، اَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلهَ إِلاَّ اللّهُ وَاَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ . رَوَاهُ الْمُحَدِّثُوْنَ .
Iman itu tujuh puluh tujuh cabangnya. Cabang yang paling utama adalah mengucapkan kalimah "Laa ilaaha illallaah" dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan. Dan malu berbuat maksiat adalah salah satu cabang dari iman. (H.R. para ahli hadits)
Ketujuh puluh tujuh cabang iman tersebut dituturkan oleh Syeikh Zainuddin bin Ali dalam kitab Syu'abul Iman sebagai berikut:
  1. Beriman kepada Allah.
  2. Beriman kepada para malaikat.
  3. Beriman kepada kitab-kitab Allah.
  4. Beriman kepada para nabi.
  5. Beriman kepada hari kiamat.
  6. Beriman kepada kepada kebangkitan orang yang sudah mati.
  7. Beriman kepada qadar.
  8. Beriman bahwa para makhluk semuanya sesudah dibangkitkan dari kubur, akan digiring ke padang mahsyar, yaitu tempat pemberhentian mereka di hari kiamat.
  9. Beriman bahwa sesungguhnya surga itu adalah tempat tinggal yang kekal bagi orang muslim.
  10. Mencintai Allah ta'ala.
  11. Takut kepada siksa Allah.
  12. Mengharap rahmat Allah ta'ala.
  13. Tawakkal.
  14. Mencintai Nabi Muhammad saw.
  15. Mengagungkan derajat Nabi Muhammad saw.
  16. Bakhil dengan agama Islam.
  17. Mencari ilmu;
  18. Menyebarkan ilmu agama Islam.
  19. Mengagungkan dan menghormati Al Qur'an.
  20. Bersuci.
  21. Menunaikan shalat lima waktu dengan sempurna.
  22. Memberikan zakat kepada yang berhak menerimanya dengan niat yang khusus.
  23. Berpuasa pada bulan Ramadlan.
  24. I'tikaf.
  25. Menunaikan ibadah haji.
  26. Berjuang membela agama.
  27. Mempertahankan garis demarkasi.
  28. Tetap dalam memerangi musuh dan tidak lari dari medan pertempuran.
  29. Memberikan seperlima dari harta rampasan perang.
  30. Memerdekakan budak yang mu'min.
  31. Membayar kafarat.
  32. Memenuhi janji.
  33. Bersyukur.
  34. Menjaga lidah dari omongan yang tidak pantas.
  35. Menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang oleh Allah.
  36. Menunaikan amanat kepada yang berhak.
  37. Meninggalkan membunuh orang muslim.
  38. Menjaga diri dari makanan dan minuman yang diharamkan.
  39. Menjaga diri dari harta yang haram.
  40. Menjaga diri dari pakaian, perhiasan dan tempat (bejana) yang diharamkan.
  41. Menjaga diri dari permaianan-permainan yang dilarang.
  42. Sederhana dalam membelanjakan harta.
  43. Meninggalkan dendam dan hasud.
  44. Melarang mencela orang-orang muslim, baik di hadapan mereka atau tidak.
  45. Ikhlas dalam beramal karena Allah ta'ala.
  46. Senang sebab ta'at, susah sebab kehilangan ta'at dan menyesal sebab maksiat.
  47. Bertaubat.
  48. Menyembelih kurban, aqiqah dan hadiah.
  49. Ta'at kepada ulil amri, mengenai perintah mereka yang berjalan menurut kaidah-kaidah syara', demikian pula ta'at kepada larangan mereka yang sesuai dengan kaidah-kaidah syara'.
  50. Berpegang teguh pada apa yang telah disepakati jama'ah.
  51. Menghukumi manusia dengan adil.
  52. Menyuruh perkara yang telah diketahui kebaikannya dan melarang parkara yang mungkar.
  53. Saling membantu dalam kebajikan dan ketaqwaan.
  54. Malu kepada Allah.
  55. Berbuat baik kepada kedua orang tua.
  56. Silatur rahim.
  57. Berbudi pekerti yang baik.
  58. Berbuat baik kepada budak belian.
  59. Ketaatan budak kepada majikannya.
  60. Menjaga hak isteri dan anak-anak.
  61. Menyintai ahli agama.
  62. Menjawab salam dari orang-orang muslim.
  63. Mengunjungi orang yang sakit.
  64. Menyalati mmayit yang muslim.
  65. Membacakan "tasymit" kepada orang yang bersin yang membaca "hamdalah".
  66. Menjauhi setiap orang yang berbuat kerusakan.
  67. Memuliakan tetangga.
  68. Memuliakan tamu.
  69. Menutupi cacat orang-orang muslim.
  70. Sabar dalam menjalankan keta'atan sehingga dapat melaksanakannya.
  71. Zuhud.
  72. Cemburu dan tidak membiarkan isterinya bercumbu rayu dengan laki-laki lain.
  73. Berpaling dari omongan yang tidak berguna.
  74. Dermawan.
  75. Menghormati orang tua dan menyayangi anak muda.
  76. Mendamaikan pertikaian yang ada di antara orang-orang muslim.
  77. Mencintai untuk orang lain apa saja yang dicintai untuk dirinya sendiri.

QOMI'UT THUGHYAN 'ALA MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN INI(قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان)

 ========================================

KITAB QOMI'UT THUGHYAN 'ALA MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN INI(قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان)DISUSUN OLEH AL-SYEIKH AL-IMAM NAWAWY AL-BANTANY AL-JAWY RA Yg Memuat 77 Cabang Iman

===================================================
KITAB QOMI'UT THUGHYAN 'ALA MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN INI(قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان) DIKAJI SETIAP MALAM JUM'AT & DISUSUN OLEH AL-SYEIKH AL-IMAM NAWAWY AL-BANTANY AL-JAWY RA(أبو عبد الله أو أبو عبد المعطي محمد بن عمر بن عربي بن علي نووي الجاوي البنتني التناري المصري ثم المكي الشافعي الصوفي
)> MEMBAHAS 77 CABANG IMAN. SEMOGA BERMANFA'AT UNTUK SEMUANYA, AMIN. DIKAJI DI :
ا لمعهد ا لإ سلا مي و مجلس ا لتعليم ا لخير ا ت
PASURUAN, JAWA TIMUR INDONESIA.
قامع الطغيان على منظومة شعب الإيمان
هو شرح على منظومة شعب الإيمان لزين الدين المليبارى (توحيد) وبهامشه هداية الأذكياء وهي منظومة لزين الدين المذكور

----------------------------------------------------------------------------
 بسم الله الرحمن الرحيم

Ngaji Dengan Makno Ghandhul Boso Jowo, 30 Agustus 2012 M/ 12 Syawwal 1433 H, pukul : 20.00 - 22.00 WIB, KITAB QOMI'UT THUGHYAN 'ALA MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN(قَامِعُ الطُغيَانِ عَلَى مَنْظوْمَةِ شعَبِ اْلإِيْمَانِ)> ngaji pengantar dari penerbit yg juga mensitir pendapat Al-Hafidz Abu Hatim Bin Ibnu Hibban bhw setelah mengadakan penetitian dan pengoreksian secara teliti dan mendalam terkait pendataan macam2 keta'atan, ternyata menemukan macam2 keta'atan itu lebih dari 77 keta'atan. Kemudian beliau menelitinya di dalam beberapa hadits/ Sunan ternyata jumlah keta'atan itu kurang dari 77 macam, lalu beliau teliti di dalam Al-Qur'an, ternyata macam2 keta'atan itu juga kurang dari 77 macam. Kemudian beliau menggabungkan macam2 keta'atan itu antara yang ditemukan dalam beberapa hadits/ Sunan dan dalam Al-Qur'an, maka ternyata memang persis seperti yang disabdakan nabi Muhammad SAW dalam hadits yg diriwayatkan oelh Al-Imam Muslim Ra bahwa : Iman itu ada 77 (Tujuh Puluh Tujuh) Cabang, dimana yg paling Afdlol adalah ucapan La Ilaha Illalloh, dan yg paling rendah adalah membuang hal-hal yg dapat menimbulkan bahaya(sakit/penyakit) di jalan. sedangkan Malu adalah termasuk satu cabang dari iman). Disamping itu, karena isi Kitab ini sangat bagus dan menarik sekali, kendatipun kecil bentuknya, tapi isinya sangat padat dan berbobot, maka penerbit kitab ini menyatakan bahwa akhirnya sangat tertarik menerbitkan kitab ini agar dapat bermanfa'at bagi kaum muslimin.
---------------------------------------
Pensyarah Kitab : MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN yang memberi nama syarahnya dengan nama kitabnya dengan : QOMI'UT THUGHYAN 'ALA MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN, yaitu :Sayid ’Ulamail Hijaz adalah gelar yang disandangnya. Al-Sayid adalah penghulu, sedangkan Hijaz wilayah Saudi sekarang, yang di dalamnya termasuk Mekah dan Madinah. Dialah Syekh Muhammad Nawawi, yang lebih dikenal orang Mekah sebagai Nawawi al-Bantani, atau Nawawi Bin 'Umar Bin 'Aroby al-Jawi seperti tercantum dalam kitab-kitabnya, manjelaskan bahwa Kitab MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN yang disusun oleh Al-Syeikh Zainuddin Al-Kusyini Al-Malibary asalnya berbahasa Persia yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab ini sangat berbobot dan baik serta menarik isinya dan menggunakan bahar Kamil dalm lantunannya, hal mana saya (Muhammad Nawawi) sudah lama punya ide pemikiran untuk menulis syarah kitab MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN ini, tetapi saya belum sempat menulis syarah ini mengingat terlalu padat aktifitas ibadah yg saya jalani. Akhirnya pada saat saya ada kesempatan waktu luang, maka saya akhirnya mmenyusun syarah (penjelasan detail) yg saya beri nama: QOMI'UT THUGHYAN 'ALA MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN, dan Kitab syarah ini jumlah bait/syi'irnya ada 26 buah, lalu saya tambahi 3 bait/syi'ir di awwalnya dan Al-Syeikh Abdul Mun'im menambah 1 syi'ir/bait di akhir kitab ini, sehingga genap jumlah total bait/syi'irnya menjadi 30 bait/syi'ir. Maka setelah saya membaca segala hamdalah (yg sebanyak 4 : Qodim 'alal Qodim, Qodim 'alal hadits, Hadits 'alal Qodim dan Hadits 'alal Hadits), serta setelah saya membaca Sholawat dan salam yg disampaikan kepada Junjungan Kita Nabi Besar Muhammad SAW, Keluarga dan para Sahabat-Nya, lalu saya memulai menjelaskan Kitab ini (MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN) dalam buah karya saya yang berbentuk syarah ini(QOMI'UT THUGHYAN 'ALA MANDZUMATI SYU'ABIL IMAN) dengan saya tulis juga di pinggir kitab ini sebuah kitab lagi yg disusun juga oleh Al-Syeikh Zainuddin Al-Kusyini Al-Malibary dengan nama kitab: Hidayatul atqiya' Wa Tuhfatul Ahya' agar  lebih besar manfa'at dan kegunaannya bagi saya sendiri dab bagi para kaum muslimin. Berikut ini saya jelaskan bait/syi'irnya: Iman kita kita ini mempunyai 77 (Tujuh Puluh Tujuh) Cabang, dan Para Pencari Fadlilah Keuatamaan. pastilah akan mencari ketujuh puluh tujuh cabang tersebut, sehingga akan menjadi manusia paripurna/sempurna/ Tamam (Insan Kamil). Perlu diketahui bahwa Al-Iman itu adalah Al-tashdiq (percaya/membenarkan) yang tidak bertambah dan tidak pula berkurang, sebab bila Al-Tashdiq itu berkurang, maka akan akan menjadi al-Sakku(ragu2), sementara bila iman itu dijalankan dengan ragu-ragu/ skeptis, maka tidaklah dapat sah/ benar hal itu dilakukan oleh orang yg beriman.

Ajaran iman tersebut memiliki 77 cabang yang harus kita ketahui dan kita amalkan. Kitab yang menuturkan 77 cabang iman secara ringkas dan mudah difahami adalah Qami' ath-Thughyan karangan Syeikh Muhammad Nawawi bin 'Umar dari Banten. Kitab tersebut merupakan ulasan dari kitab Syu'ab al-Iman yang berbentuk syair karya Syeikh Zainuddin bin 'Ali.

Syeikh Muhammad Nawawi bin 'Umar Banten mengawali ulasan syair yang menuturkan cabang-cabang iman dengan tiga syair pembuka kitab Syu'ab al-Iman sebagai berikut:
اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِى قَدْ صَـيَّرَا * اِيْمَانَ شَخْصٍ ذَا شُعَبْ فَتُتَمَّمُ
هَذِىْ بُيوْتٌ مِنْ كِتَابِ الْكُوْشِنِى * مَنْ قَـالَ بَعْدَ صَـلاَتِنَا َنُسَـلِّمُ
لِمُحَـمَّدٍ وَِلآلِـهِ وَصَــحَـابَتِهْ * مَادَارَ شَمْسٌ فِى السَّمَـاءِ وَاَنْجُمُ
  • Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan iman seseorang mempunyai cabang-cabang, sehingga cabang tersebut harus disempurnakan.
  • Bait-bait syair ini diambil dari kitab Syeikh Zainuddin al-Kusyini, yaitu orang yang berkata setelah kami membaca salawat dan salam,
  • bagi Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau, selama matahari dan bintang-bintang di langit masih beredar.
  •  
  • Iman  mempunyai cabang sebanyak 77 (tujuh puluh tujuh). Setiap cabang berupa pekerjaan yang harus dikerjakan oleh setiap orang yang mengaku beriman. Apabila 77 pekerjaan tersebut dilakukan seluruhnya, maka sempurnalah iman seseorang. Apabila ada yang ditinggalkan, maka berarti berkurang ketebalan imannya. Cabang iman sebanyak 77 adalah berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh para ahli hadits yang berbunyi:
    قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً ، اَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ الاَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيْمَانِ رَوَاهُ الْمُحَدِّثُوْنَ
    Rasulullah saw bersabda: "Iman itu 77 cabangnya. Yang paling utama dari cabang-cabang tersebut adalah mengucapkan "La ilaha illallah" (tiada Tuhan melainkan Allah) dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalan. Malu (berbuat maksiat) adalah satu cabang dari iman." H.R. Para Ahli Hadits.
    Ketujuh puluh tujuh cabang iman tersebut dituturkan dalam bait syair:
    اِيْمَانُنَا بِضْعٌ وَعَــيْنٌ شُعْبَـةً * يَسْتَكْمِلَنْهَا اَهْـلُ فَضْلٍ يَعْظُمُ
    Iman kita ada 77 cabang, yang para ahli keutamaan benar-benar akan menyempurnakannya, sehingga menjadi orang besar di sisi Allah.
  •  
  • sumber: http://wwwahamid.blogspot.com/2012/11/kitab-qomiut-thughyan-ala-mandzumati.html
  •